Cerita Dewasa Terbaru Tari Pelampiasan Nafsuku

Video Rate:
0 / 5 ( 0votes )
140 views

Cerita Dewasa Terbaru Tari Pelampiasan Nafsuku – Cerita ABG, Cerita Janda, Cerita Perawan, Cerita Perkosaan, Cerita Seks Sedarah, Cerita Selingkuh, Cerita SEX, Cerita Skandal, Cerita Tante Girang, ABG Bispak Telanjang, Bokep Indonesia, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Janda, Cerita Ngentot Pembantu, Cerita Ngentot Perawan, Cerita Panas, Cerita Pemerkosaan, Cerita Seks Indonesia, Cerita Seks Sedarah, Cerita Selingkuh, Cerita SEX, Cerita Skandal, Cerita Tante Girang, Cewek Telanjang, Foto Bugil, Memek Perawan, Tante Girang, Toket Gede Mulus. Orisex web dewasa yangg berisikan cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa – Sabtu pagi Tanti sengaja datang ketempat kos Fredy. Rasa rindu telah mendorong dirinya untuk menemui Fredy.

cerita ngentotCerita Sex Tari Pelampiasan Nafsuku

“Akhir-akhir ini susah menemui kamu Fred” kata Tanti.
“Sori ya Say, aku lagi sibuk bisnis” kilah Fredy,
“Tapi aku selalu ingat sama kamu kok, cuma mungkin harus cari waktu yg pas agar kita ketemuan berdua” sambungnya
“Gak papa aku turut senang dengan keberhasilanmu. Kamu makin sukses sekarang, tapi awas jangan keasyikan bisnis kuliahmu yg tinggal nyususn skripsi terbengkalai” kata Tanti mengingatkan Fredy.

Tanti memang senang dengan keberhasilan Fredy. Kini taraf hidup Fredy semakin meningkat dan penampilannya juga semakin keren. Tanti jadi tambah bangga jadi pacar Fredy.

“Terima kasih sayang atas dorongannya” kata Fredy,
“Gimana kalau ntar malam kita keluar dan makan malam bersama? Kita sudah lama tdk jalan bersama” ajak Fredy.
“Ide bagus tapi mau enggak kalau makan malamnya di rumah Tanti saja. Kebetulan Papa dan Mama sedang ke Yogya ada urusan. Di rumah tdk ada siapa-siapa. Ntar aku minta Mbak Sari untuk masak buat makan malam. Mau enggak Say?” usul Tanti.
“Aku setuju say, lagian aku juga sudah lama enggak main kerumah kamu” jawab Fredy.

Malam harinya Fredy langsung menuju Rumah Tanti. Orang tua Tanti dan adik Tanti lagi pergi ke Yogya ada urusan keluarga, sehingga suasana di rumah Tanti benar2 sepi. Tanti hanya ditemani sama Sari pembantunya.

Melihat suasana rumah yg sepi, Fredy mulai berpikir,

“Sekaranglah saatnya aku dapat menyetubuhi Tanti”. Sudah lama Fredy berhasrat dapat menyetubuhi kekasihnya tersebut, namun belum ada kesempatan dan malam inilah kesempatan itu ada.
“Aku ingin malam ini menjadi milik kita berdua” kata Fredy merayu,
“Kamu masih mencintai aku kan say?” tanya Fredy.

Tanti tersenyum dan mengangguk. Lalu Fredy menggeser duduknya lebih dekat dengan Tanti. Tanti diam saja ketika lengannya dicekal Fredy, wajahnya menunduk.

“Tan” Fredy membelai rambut Tanti dengan mesra,
“Aku sayang sekali sama kamu” lanjut Fredy.

Sementara Tanti hanya diam pasrah. Dan ketika Fredy mencium bibirnya, Tanti berusaha meng¬elak. Wajah Tanti merah merona, malu. Namun Fredy lebih pintar. Deng¬an gerak tipunya akhirnya dia berhasil mendarat-kan bibinyar ke bibir Tanti.

Tanti tdk bisa mengelak dari sergapan Fredy. Sia2 saja menghindar. Lagi pula sebenarnya Tanti juga membutuhkan kemesraan itu. Apa artinya cinta kalau tdk disertai dengan kemesraan. Maka dibalasnya ciuman Fredy de¬ngan mesra pula.

Keduanya saling berpagutan. Bibir mereka saling beradu mesra penuh dengan rasa cinta.

Dan meskipun hanya ciuman, namun itu sudah mampu menggetarkan sekujur tubuh Tanti.

Namun bagi Fredy yg telah terbiasa bermesaraan dengan cewek, melihat keadaan Tanti saat itu, dia tdk merbiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Tangannya mulai mengge¬rayah sekujur tubuh Tanti. Tanti membiarkan tangan Fredy mengusap-usap punggungnya. Tetapi ketika tangan Fredy menelusup ke dadanya, Tanti berusaha mengelak.

“Jangan, Fred!!!!” kata Tanti sambil berusaha mencegah Fredy berbuat lebih jauh,
“Kita jangan terlalu jauh” lanjutnya
“Kenapa? Biar lebih mesra kan?” kata Fredy.
“Tanti malu. Aku enggak mau…!!!” jawab Tanti
“Kenapa harus malu. Toh disini cuma ada ki¬ta berdua?” kata Fredy
“Jangan, Fred. Tanti malu ah!” sambung Tanti
“Santai Tan, nikma¬ti saja” kata Fredy.

Tangannya terus me¬rayap meski Tanti berusaha mengelak. Tapi Fredy terus memaksa. Dipagutnya bibir Tanti lagi. Lebih erat le¬bih mesra.

Tanti terperangah. Karena Fredy terus memaksa dibiarkannya tangan Fredy memegangi susunya yg montok dan masih kencang itu. Tanti merasakan suatu kenikmatan yg belum pernah dia rasakan sebelumnya mengalir dalam dirinya saat tangan Fredy meremas kedua susunya walau masih dari balik kaosnya. Ternyata nikmat juga rasanya. Bahkan Tanti mulai merintih dengan mata terpejam menikmati elusan tangan Fredy pada susunya tersebut.

“Aaaah… say…” rintih Tanti

Fredy terus memacu birahi Tanti de¬ngan memberi ciuman pada lehernya yg jen¬jang dan bersih itu dikulum lembut. Bulu kuduk Tanti berdiri, Fredy tahu kekasihnya mula naik birahinya. Tangan Fredy lalu menelusup kedalam bawahan Tanti dan mulai menyentuh CDnya.

“Jangan!” Tanti mengelak. Ditempiskan tangan Fredy.

Sadar akan hal itu Fredy membatalkan niatnya. Dia menyusun stateginya kembali. Dia tersenyum, lalu mengecup bibir Tanti kembali dengan mesra. Ciuman dan pagutan bibir keduanya berlangsung lagi. Kembali Fredy meremas susu Tanti.
Kembali keduanya terdiam. Hanya suara kecipak bibir keduanya yg saling beradu yg terdengar.

Untuk keduan kalinya Fredy mencoba menelusupkan tangannya ke dalam bawahan Tanti bahkan lebih dari itu tangan Fredy berusaha menelusup kebalik CD Tanti dengan setengah memaksa. Tanti berusaha menge¬lak. Tetapi dengan kuat Fredy memaksanya. Tanti tak kuasa menahan sehingga Tanti membiar¬kan tangan Fredy merayapi bukit no noknya.

“Aaaaahhh…” Tanti mendesah,
“Jangan, malu ah jangan pegang-pegang itu. Nggak mau…!!!” tolak Tanti.

Namun Fredy tak perduli. Cengkeraman¬nya semakin ketat. Dia benar-benar ingin me¬runtuhkan benteng birahi kekasihnya.
Akibat, kemesraan yg ber-tubi-tubi, Tanti menjadi lupa daratan. Ciuman Fredy dibalas¬nya dengan liar. Dia menjadi berani. Bahkan diapun membiarkan ketika Fredy membuka kaosnya. Fredy mendekap tubuh Tanti yg sete¬ngah telanjang. Kembali diciumnya bibir Tanti dengan penuh nafsu, lidahnya menggelitik rongga mulut Tanti. Tanti kembali terpera¬ngah.

“Aaaaahhh…” kembali Tanti merintih.

Fredy menyentakkan CD Tanti dan melemparkannya jauh2. Ia sendiri kemudian membuka celananya sendiri. Tanti tdk tahu kalau Fredy sudah tak bercelana lagi. Dan ketika jemarinya menyentuh sesuatu yg besar, panjang dan hangat, Tanti terperanjat.

“Ouw!” pekiknya sambil membuang muka melihat penis Fredy yg besar dan pan¬jang itu.
“Tdk!!!!” kata Tanti.

Wajah Tanti tampak pucat dan tegang. Bayangan perkosaan yg menimpa dirinya 3 tahun yg lalu kembali membayang. Fredy beru¬saha mendekap Tanti. Disentuhkan kepala penisnya pada paha gadis itu. Tanti mengelak. Dia merasa ngeri melihat betapa besarnya penis milik Fredy. Ingatannya kembali kemasa lalunya, saat peristiwa perkosaan itu terjadi.
Fredy mengarahkan penisnya keba¬gian selangkangan Tanti yg masih terus me¬ronta.

“Jangan! Tdk mau! Jangan…!” Tanti men¬-jerit-jerit sambil terus meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Fredy.

Namun Fredy terus berusaha hingga ujung penisnya benar-benar menyentuh bibir no nok Tanti. Kemudian ditekan kuat2 penisnya agar masuk kedalam no nok Tanti. Namun terpeleset.

Dengan dorongan yg kuat, dalam sekejap Tanti berhasil melepaskan diri dan beringsut bangkit dan menyambar pakaiannya. la berdiri dengan mata nanar memandangi Fredy yg masih terpukau di kursi.

“Apa yg akan kau lakukan terhadapku Fred?!” tanyanya dengan nada yg sangat marah sambil tangannya menampar pipi Fredy. Fredy tak menjawab.

Ia tertunduk malu sambil tangannya meng-usap-usap pipinya bekas tamparan Tanti. Fredy sadar dirinya tak mung¬kin berbuat lebih nekat terhadap Tanti, ga¬dis yg sangat dicintainya itu.

“Bukankah kau cinta sama aku?” tanya Fredy.
“Aku sangat cinta sama kamu, Fred. Maafkan Tanti. Untuk yg satu itu Tanti belum siap” kata Tanti.
“Terus sampai kapan?” tanya Fredy.
“Entahlah. Tanti mohon dengan sangat kelapangan hatimu. Beri waktu Tanti untuk mempersiapkan segalanya” jawab Tanti.

Dalam hatinya sebenarnya Tanti kasihan dengan kekasihnya itu. Namun trauma perkosaan itu masih terus membayangi dirinya. Sehingga tanpa sadar dirinya berusaha menolak ketika Fredy hendak memasukkan penisnya dalam liang no noknya. Wajah Tanti sendu menatap Fredy sambil menutupi tubuh bugilnya dengan pakaiannya.

“Maafkan aku Tan. Aku telah memaksamu” Sambil berkata demikian Fredy memakai celananya kembali. Tantipun memakai pakaiannya kembali.
“Tanti juga minta maaf. Percayalah kalau waktunya tiba, Tanti akan menyerahkan semuanya padamu” kata Tanti sambil melendot manja dibahu Fredy.
“Ah sudahlah. Aku mengerti kok” ujar Fredy menenangkan dirinya yg telah dikuasai nafsu birahi yg tdk tertuntaskan.

Untuk beberapa lama keduanya terdiam berdekapan mesra.

“Makan yuk, say. Ntar keburu dingin masakkannya” ajak Tanti.

Kemudian berdua mereka menikmati makan malam. Saat keduanya sedang menikmati santap malam tersebut tiba2 Fredy teringat pada Mirna. Mirna adalah harapan Fredy untuk menuntaskan hasrat birahinya yg tertunda tdk tersalurkan.

Setelah selesai santap malam, tiba2 HP Fredy berbunyi,

“Halo, eh loe Har” kata Fredy. Sesaat Fredy ngobrol dengan temannya di telepon. Lalu Fredypun meminta diri pada Tanti.
“Tan, aku pulang dulu ya? Sori tadi Hardi yg telepon, dia mau pinjam mobil” kata Fredy berpamitan pada Tanti.
“Oke, hati2 ya, say. Sampai ketemu lagi. Tanti janji kalau tiba waktunya ntar, Tanti akan serahkan seluruhnya pada kamu” jawab Tanti sambil mencium lembut pipi Fredy.

Fredy memacu mobilnya ketempat yg disebutkan oleh Hardi. Begitu bertemu dengan Hardi, Fredy menyerahkan kunci mobilnya pada Hardi lalu Fredy menghidupkan mesin motor Hardi. Fredy memacu motor menuju rumah Mirna untuk menyalurkan hasrat birahinya yg tdk terpenuhi dari Tanti. Sepanjang jalan dia mengumpat. Sementara penisnya mulai ngaceng membayangkan Mirna. Sesekali Fredy meringis menahan rasa sakit akibat penisnya terus mengacung mendesak celananya.

“Sabar dong! Sialan loe. Nggak bisa diajak kompromi!” gerutu Fredy sambil memukul ba¬tang penisnya sendiri,
“Aku harus melampiaskan birahi ini,” bisik hatinya sambil memacu sepeda motornya ke¬rumah Mirna.

Tapi sesampainya di rumah Mirna, ternyata Mirna tdk ada di rumah.

“Kemana dia?!” tanya Fredy kesal pada Tari pembantu Mirna.
“Apa Non Mirna nggak bilang sama Mas Fredy?” ujar Tari dengan suara manja dan tingkah yg genit balik bertanya.
“Genit juga pembantu Mirna ini” batin Fredy,
“Tari manis juga. Sejak suaminya mening¬gal dia hidup terus menjanda.

Bekerja pada Mirna. Sudah hampir 3 tahun. Kulit Tari hitam manis. Rambut dipotong pendek. Bersih juga tubuhnya. Boleh juga nih cewek jadi pengganti Mirna daripada nafsunya yg sudah di-ubun2 tdk tersalurkan” kata Fredy dalam hatinya sambil terus memperhatikan Tari.

“Non Mirna ke Yogya. Baru pulang Senin sore atau Selasa pagi” kata Tari menjelaskan.

Fredy sempat berpikir dalam hatinya,

“Kok Mirna dengan orang tua Tanti sama-sma ke Yogya. Ah mungkin kebetulan aja mereka sama2 ke Yogya tapi beda acara” Fredy menatap Tari dengan pandangan tajam keseluruh tubuh Tari. Pandangan mata Fredy se-akan-akan menelanjangan tubuh Tari. Tari menunduk.
“Kenapa sih Mas Fredy memandang Tari seperti itu?” tanya Tari.
“Kamu manis juga Tar” puji Fredy sam¬bil bangkit berdiri.
“Ah Mas Fredy bisa saja” kata Tari. Wajahnya merona merah.
“Aku bukan sembarang memuji. Kamu emang ma¬nis kok. Aku jadi pingin cium bibir kamu nih” ujar Fredy makin berani.
“Idih Mas Fredy genit ah. Jangan begitu lho nanti Non Mirna marah” balas Tari.
“Dia kan di Yogya, mana bisa marah? Jawab Fredy
“Tapi…” Tari tak melanjutkan kata-katanya karena secara tiba-tiba Fredy telah menyumbat mulutnya dengan suatu ciuman yg penuh nafsu. Tari berusaha memberontak.

Namun tenaga Fredy jauh lebih kuat. Dalam tempo sekejap saja tubuh Tari telah berada dalam dekapan Fredy.

“Oooooh… hhhhmmm…” akhirnya Tari menyerah. Bahkan dia membalas ciuman itu dengan nafsu pula.

Tangan Fredy menggerayah tubuh Mirna seperti apa yg di¬lakukannya tadi terhadap Tanti. Namun kali ini dia tdk mendapatkan sedikitpun penolakan dari Tari. Mendapat perlakuan seperti itu dari Fredy, Tari yg telah 3 tahun menjanda, gelora birahinya langsung bangkit dengan hebatnya. Ia merangsak tubuh Fredy membuat Fredy terkesiap.

“Edan betul nafsunya. Rupanya nafsu Tari sudah lama juga tdk tersalurkan” bisik Fredy dalam hati.

Saat pakaian Tari sudah terlucuti semuanya, Tari mu¬lai terkulai pasrah. Tubuh yg se-hari-hrinya ditutup pakaian longgar itu kini menunjukkan lekak-lekuk yg indah dengan warna kulit hitam yg bersih. Sungguh diluar dugaan Fredy, ternyata tubuh Tari cukup mempesona. Dia me¬mang pembantu tetapi pandai merawat tubuhnya.

Malam ini sungguh keberuntungan bagi Fredy menemukan janda Jablai macam Tari. Untuk selanjutnya Fredy tdk banyak komentar. Dibukanya celananya sendiri berserta CDnya sehingga penisnya nampak mencuat membuat Tari terpekik.

“Edan… gede tenan penis Mas Fredy!” kata Tari dengan logat jawanya yg medok.
“Kan makin besar makin enak Tar. Bukannya cewek suka dengan penis yg besar?” kata Fredy.
“Pantas Non Mirna ter-gila2 sama Mas Fredy” sambung Tari.
“Sebentar lagi kamu jugai!” ujar Fredy sam¬bil meng-usap-usap jembut keriting Tari yg lebat.

Herannya meski sudah diamuk nafsu birahi, no nok Tari tdk terlalu banyak mengeluarkan cairan. No nok Tari hanya sedikit basah seperti no nok yg habis dicuci dengan air sehabis kencing. Ini sungguh menakjubkan.

“Aduh Tari enggak nygka, Mas Fredy mau sama Tari” ujar Tari bangga,
“Kalau Tari tahu Mas Fredy mau sama Tari, sudah sejak dulu Tari minta Mas Fredy ngen toti Tari” kata Tari semakin berani.

Tari mencekal batang penis Fredy sambil terus di-elus-elus dengan lembut membuat penis Fredy yg sudah tegang semakin keras.

Tari takjub melihat pemandangan yg ada dihadapannya, ia melihat penis Fredy panjang dan besar, di genggamnya penis Fredy dengan kedua tangannya, Tari heran dengan besarnya penis Fredy karena masih ada sedikit yg tdk tergenggam oleh tangannya, lalu Tari mulai menjilati kepala penis Fredy, lidahnya kadang-kadang bermain di liang kencingnya, sementara kedua tangannya me-remas2 lembut bagian batangnya, akibatnya tubuh Fredy bergetar, lenguhannya kembali terdengar, kepalanya terdongak matanya terpejam menikmati jilatan2 lidah Tari serta remasan-remasan tangan Tari di penisnya.

“Oohh… Tar, terus… enak… jilatanmu… aaaaaaahhhh…” lenguh Fredy,
“En tot penisku dengan mulutmu Tar… sssssshhhhh… oooohhh…” desah Fredy meminta Tari untuk mengulum penisnya.

Dengan senang hati Taripun melakukan apa yg diminta oleh Fredy. Mulutnya mulai me-ngulum2 penis Fredy, mulutnya maju mundur dipenis Fredy. Sementara tangan kanannya tetap me-remas-remas sebagian penis Fredy, tangan kirinya mempermainkan biji peler Fredy. Fredy semakin melenguh mendapatkan perlakuan Tari ini, kedua tangannya memegang kepala Tari, dengan perlahan Fredy memaju mundurkan kepala Tari mengimbangi gerakan maju mundur mulut Tari di penisnya.

“Oooooohh… sssshhhh… aaaaaahhh… enak betul sepongan mulutmu Tar… ooooohhhhh…” Fredy mendesah,
“Terus Tar… terus… kulum penisku… sssssshhhh… aaaaahhh…” Fredy kembali mendesah.

Kepala Fredy terdongak, mulutnya setengah terbuka dan matanya terpejam menikmati permainan mulut Tari serta kedua tangannya di penis dan biji pelernya, tubuhnya semakin bergetar, Tari sendiri semakin mempercepat gerakan maju mundur mulutnya. Fredy tdk mau hanya puas dengan mulut Tari saja, iapun menahan gerakan kepala Tari, dan menarik tubuh Tari yg sedang berjongkok untuk berdiri, diajaknya Tari pindah ke sofa.

Fredy duduk disofa dengan posisi sehingga penisnya yg telah ngaceng sempurna tersebut berdiri tegak. Tari tahu apa yg diinginkan oleh Fredy, kemudian Taripun mengangkang diatas tubuh Fredy, tangannya segera meraih penis Fredy, di-gesek2kannya kepala penis Fredy ke 1t1lnya. Kemudian setelah itu Tari menyelipkan kepala penis Fredy ke celah no noknya.

Sssllleeeppp….

Kepala penis Fredy terselip dicelah no nok Tari, kemudian dengan perlahan Tari mulai menurunkan pantatnya, sehingga penis Fredy yg besar tersebut perlahan mulai menerobos liang no noknya.

Blleesssss…

Tari merasakan penis Fredy yg besar membuat sesak liang no noknya, dan ia merasakan sedikit perih pada liang no noknya akibat besarnya penis Fredy dan juga akibat liang no noknya yg sudah lama tdk kemasukkan batang penis lelaki. Sementara itu Fredy sendiri merasakan no nok Tari yg keset sangat sempit dan menjepit dengan erat penisnya. Tari mendiamkan sebentar gerakkannya.

“Edan, ini penis gede banget, bisa robek no nokku” celoteh Tari,
“Ssssssh… ooooohhhh…” desis Tari.

Sungguh luar biasa no nok Tari yg tdk becek terasa keset sehingga semakin menambah kenikmatan bagi Fredy.

“No nok kamu keset banget Tar, rasanya lebih nikmat dari Mirna” puji Fredy sambil memegangi pantat Tari yg sedang naik turun sehingga penisnya keluar masuk no nok Tari.

Tari tersenyum.

“Akan Tari beri sesuatu yg lebih nikmat” ujar Tari sambil dengan lincah memutar pan¬tatnya.
“Ssssshhhh… aaaaahhhh…!!!” Fredy mengerang karena batang penisnya seperti dipelintir diliang no nok Tari.

Goyangan Tari sungguh luar biasa. Tapi Tari menolak ketika Fredy menuduh Tari sudah terbiasa melakukan hal tersebut sehingga jadi sangat mahir dengan goyangan tersebut.

“Aku biasa nampi beras di kampung Mas” kata Tari.
“O, pantas. Karean dengan menampi beras, se¬cara tdk langsung berlatih goyang pantat” kata Fredy.
“Tapi kalau empotan no nokku itu bakat alam Mas. Sudah dari sononya. Setiap no nokku kemasukan batang penis, secara alami langsung pasti akan mengempot… Apalagi kalau aku merasakan nikmat pada no nokkku, maka empotan itu akan semakin kencang” jelas Tari.

Fredy kagum dengan semua yg ada di no nok Tari. Terutama empotan no noknya yg terasa sangat luar biasa. Mirna sajasampai harus berlatih senam Kegel untuk melatih otot2 no noknya. Namun Tari secara alami dapat menggerakan otot2 no noknya tersebut.

Fredy yg biasa tahan lama dalam persenggamaan, merasa kedodoran. Goyangan Tari membuat penisnya rasanya seperti di-remas2 sambil sekaligus di-isep2 oleh otot2 dinding didalam liang no nok Tari. Hebatnya lagi no nok Tari sama sekali tdk becek, masih terasa keset, se-olah2 Tari sama sekali tak terangsang oleh permainan ini.

Padahal Fredy yakin se-yakin2nya bahwa Tari juga sangat bernafsu, karena Fredy lihat dari wajahnya yg memerah, serta pentil susu dan 1t1lnya yg mengeras seperti batu itu. Sungguh luar biasa, lebih2 ketika Tari menekan kuat pantatnya kebawah dan kemudian menggoyangnya, Trak! Terdengar bunyi berderak pada pangkal penis Fredy akibat goyangan pantat Tari. Namun seketika itu juga, batang penis Fredy merasakan pijitan dan remasan didalam liang no nok Tari.

Penis Fredy serasa di-urut2. Sehingga nikmatnya bukan main. Dan kenyataannya kurang dari 10 menit Fredy yg sejak tadi birahinya sudah tinggi tdk mampu lagi memper¬tahankan puncak kenikmatannya. Dia menjerit panjang disertai tekanan hebat.

“Oooooohhhhh… Taaaarrrrrr… aaakkkuuuu mau kelluaaaarrr… ssssshhhhh… aaaahhhhhh… no nok kamu enaaakkk sekaaalliiiii… ssssshhhhh… ooooooohhhh… Taaarrrr… aku gak taaahhaaannn laagi… ssssshhhh… aaaaaaaaahhhh… aku keluaaaaaaar…!!!” Fredypun mengerang merasakan puncak orgasmenya, kepala penisnya menyemburkan pejunya.

Creett… creettt… creeetttt… pejunya yg kental muncrat membasahi no nok Tari. Nikmatnya luar biasa.

Sementara itu ketika penis Fredy amblas seluruhnya ditelan liang no nok Tari hingga menyentuh dinding rahimnya, Taripun merasakan nikmat dan berada diambang orgasmenya.

“Ooooooh… Maaaaaaas… nikmat… enaaaaak… aku gak tahan lagi, ssssshhhh… ooooohhhh… Maaaasss… Tari juga keluaaaaar…!!!” Tari mengerang panjang saat orgasmenya berhasil ia rengkuh.

Taripun memeluk Fredy kuat2, Seerr… seerrr… seeerrr… seeeerrrrr… no noknya menyemburkan cairan orgasmenya, membasahi penis Fredy dan memenuhi liang no noknya. Tubuh Tari bergetar dengan hebat, pantatnya me-ngejut2. Kini tubuhnya ambruk merapat ke tubuh Fredy, no noknya ber-kedut2. Mulutnya tersungging senyum kepuasan.

“Mas, penismu gede banget, no nok Mirna perih gara2 penismu ini, Edan enak banget rasanya no nok Tari penuh terisi penis Mas” kata Tari dengan nafas yg masih ter-sengal2 akibat gelombang orgasmenya.
“No nokmu juga enak Tar, sempit sekali dan keset, jepitannya ketat” balas Fredy.

Birahinya yg tadi tdk tersalurkan dengan Tanti, kini terlampiaskan¬ melalui no nok Tari. Setelah beristirahat sejenak dari gelombang orgasme masing2. Tari mencabut penis Fredy dari no noknya. Kemudian dia menuju ke dapur untuk membuatkan minuman bagi Fredy.

Merasakan enaknya no nok Tari, malam itu Fredy memutuskan untuk tdk pulang ke tempat kos. Dia akan tidur dirumah Mirna meskipun Mirna sendiri sedang ke luar kota. Tentu saja Fredy betah tinggal di situ karena ada Mi¬nah yg punya sesuatu yg lebih enak dari punya Mirna yg membuat dia ketagihan. Kemudian dia pindah ke kamar tidur tamu.

Tadinya dia akan memakai kamar tidur Mirna, tapi rasanya tdk enak jika memakai tempat tidur Mirna untuk ngen toti perempuan lain. Makanya dia memilih untuk tidur di kamar tidur tamu saja. Sambil menunggu Tari membuatkan minuman buatnya, dia tidur2an di tempat tidur. Namun karena kondisi badannya yg capek, belum sempat menikmati minuman yg dibuat oleh Tari Fredypun ketiduran.

Tengah malam Fredy terbangun. Tubuh Mi¬nah yg masih telanjang bulat telentang disampingnya, matanya terpejam karena kelelahan akibat didera kenikmatan puncak birahinya. Melihat pemandangan disampingnya, nafsu Fredy bangkit kembali. Per-lahan2 Fredy duduk disamping Tari. Dengan penuh nafsu kedua tangannya mulai me-remas2 kedua susu Tari. Sambil di-remas2, kedua susu tersebut mulai dijilati mulut Fredy dan pentilnya dia isep2. Taripun terbangun dari tidurnya akibat aksi Fredy dikedua susunya tersebut.

Melihat Tari bangun, Fredypun semakin meningkatkan aksinya. Kini sambil tangan yg satu me-remas2 susu Tari, tangan Fredy lainnya mulai meng-elus2 no nok Tari. Saat tangannya mulai menyentuh no nok Tari, dia merasakan no nok Tari agak lembab, nampaknya Tari terangsang karena ulahnya. Kemudian Fredy mulai memasukkan jari tengahnya kedalam liang no nok Tari yg lembab itu, dengan gerakan per-lahan2 dikeluar masukkan jarinya itu dino nok Tari yg keset itu. Seluruh aksinya itu membuat Tari mulai mendesah keenakan.

“Ooooohh… sshhhhh… aaaahhhh…” desah Tari.

Setelah rangsangan di no nok Tari, Fredy rasa cukup, Fredy mengeluarkan jari tangannya dari liang no nok Tari. Ia mengangkangkan kedua kaki Tari dan mengarahkan penisnya keno nok Tari, dengan per-lahan2 Fredy mulai melesakkan penisnya keliang no nok Tari, Fredy tdk mau ter-buru2 memasukkan penisnya dia pingin merasakan nikmatnya saat penisnya memasuki liang no nok Tari.

Per-lahan2 batang penis Fredy mulai masuk kedalam liang no nok Tari, ia merasakan no nok Tari keset dan masih sempit, sempit karena memang no nok Tari sudah 3 tahun tdk kemasukan penis laki2 dan sekalinya kemasukkan penis laki2, langsung penis yg sangat besar miliknya sehingga pantas kalau no nok Tari terasa masih sempit. Penis besarnyalah yg petama kali memasuki no nok Tari setelah 3 tahun puasa. Sedikit demi sedikit penis Fredy mulai terbenam diliang no nok Tari, dengan gerakan perlahan Fredy mulai menurunkan tubuhnya sehingga posisinya mulai menindih tubuh Tari dan kedua tangannya mulai diselipkan ketubuh Tari.

Sambil memeluk tubuh Tari dengan cukup erat dan bibirnya mengulum bibir Tari, tiba2 Fredy membenamkan penisnya dalam2 kedalam liang no nok Tari, membuat Tari tersentak. Taripun memeluk Fredy, namun Tari tdk dapat berbicara karena mulutnya sedang dilumat oleh Fredy. Tari merasakan bukan hanya mulutnya saja yand sedang dilumat tapi no noknya pun sedang disumpal oleh penis Fredy yg gede itu. Tari mulai merasakan Fredy menggerakkan penisnya diliang no noknya. baca cerita sex lainya di seksigo.com

Bless… sleep… bleess… sleppp… bleess… sleeeppp…

Mata Tari mulai merem melek menikmati sodokan2 penis Fredy yg gede itu. Melihat Tari mulai menikmati en totannya Fredy melepaskan lumatan dibibir Tari.

Tari tersenyum.

“Masih mau lagi to Mas?” tanya Tari.
“Aku ketagihan no nokmu, Tar. No nokmu enak banget” jawab Fredy dan mulai menjilati leher dan telinga Tari, aksinya ini semakin membuat desahan2 Tari semakin menjadi.
“Ouuhhh… ssshhhhh… aaahhhhh… Maaaaass… kon tooolllmuuuu… gede banget… terasa eenaakk banget di no nok Taarriiii… sshhhh… aaahhhh…” Tari mendesah merasakan nikmatnya en totan Fredy.
“Hmmhhhh… slrruuuppp… hmmmm… no nokmu seeempiiiit… sssshhhh… oohhhh Taaaarrrrr… eenaaakkk bangeeeet… ssluuurrpppp… sllluuurrpppp… sssssshhhhhh… oooohhhh…” Fredy melenguh keenakan merasakan no nok Tari yg sempit itu sambil tetap meng-isep2 susu Tari.
“Oooohhh… Maaaaass…” desah Tari.

Ia mulai membuka selangkangannya lebih lebar. Namun Fredy segera melarang dan meminta agar Tari tetap pada posisi semula bahkan agar sempitnya no nok Tari lebih terasa, kini Fredy mengangkat kedua kaki Tari dan diletakkan di pundaknya. Dengan posisi tersebut tampak bibir no nok Tari monyong saat Fredy menarik penisnya. Dan saat Fredy menekan penisnya terlihat bibir no nok Tari ikut terdorong masuk. Posisi tersebut membuat jepitan no nok Tari semakin erat dan gesekan penis gede Fredy pada liang no nok Taripun semakin terasa oleh Tari.

“Ssssssshhhh… aaaaahh…” Tari mendesah dan menggeliat. Genjotan Fredy membuat getaran nikmat pada rahimnya.
“Maaas… Apakah setiap laki2 menghendaki liang no nok yg sempit?” tanya Tari.
“Mana aku tahu” jawab Fredy, “Yg je¬las no nokmu bikin aku ketagihan” kata Fredy.

Tari nyekikik kecil. Kakinya meng¬-hentak2 membuat gerakan aneh. Akibatnya penis Fredy terasa seperti di-geleng2 didalam liang no nok Tari.

“Aaaaaahhh… Tarrrr… eennnaaaaakkk bangeeeeet penisku… sssssshhhh… oooohhh… nikmaaaatt” erang Fredy.

Tari terus memutar dan menggoyang pantatnya mengimbangi sodokan penis Fredy.

“Hmmmm… Mas kuat sekali… Oooohhh Maaaas… terus enjot yg kuat Maaaas… puaskaannn Taaarriiii… ssssshhhh… aaaahhhh…” puji Tari sambil terus melenguh keenakan.

Fredy tersenyum sambil mempercepat enjotan penisnya dengan kuat. la sudah tak tahan lagi, tak peduli apakah Tari sudah akan mencapai orgasmenya atau belum, ia ingin segera menuntaskan hasrat birahinya yg menggebu. Namun justru sebaliknya Tari yg akan mencapai orgasmenya duluan.

“Aduuuuhh… terus Maaaaasss… Enaak Maaaass… sssssshhhh… oooohhhh… teruuss Maaaaasss… aaaaahhh… lebihh cepaat Maaaaasss…” Mirna terus mengerang dan merintih.

Fredy semakin mempercepat keluar masuk penisnya diliang no nok Tari. Irama sodokan penis Fredy diliang no nok

Tari semakin tdk teratur dan tak lama kemudian.

“Oooooohhh Maaaaass… Aku keluaaaaaarr Maaaaass… ssssshhhhh… aaaaaaaahhhh…” erang Tari.

Seerr… seerrr… seeerrr… seeeerrrrr… no noknya kembali menyemburkan cairan orgasmenya, menyiram hangat penis Fredy. Mata Tari membelalak. Tubuhnya meregang dan kelojotan didera kenikmatan orgasmenya. Tangannya memeluk erat tubuh Fredy. Fredy merasakan saat Tari orgasme itu, no nok Tari seperti mencengkeram erat penis Fredy dan me-mijat2. Fredypun menghentikan enjotannya sejenak.

Karena Fredy ingin segera mendapatkan puncak kenikmatannya, maka Fredy mulai mencip¬takan rangsangan2 lain guna menaikkan birahinya setinggi mungkin agar pejunya cepat muncrat. Dia cabut batang penisnya lalu meminta Tari untuk menyepongi penisnya.

Tari mendekatkan wajahnya ke penis Fredy, lalu dengan sigap pula Tari menggenggam penis Fredy dan kemudian mengulumnya. Fredy lihat bibir Tari yg tebal itu sampai membentuk huruf O karena penisnya yg gede itu hampir seluruhnya memadati bibir mungil Tari. Tari sepertinya sengaja memamerkan kehebatan sepongannya, karena sambil mengulum penis Fredy ia berkali kali melirik kearah Fredy. Fredy hanya dapat menyeringai keenakan dengan sepongan Tari tersebut.

“Edan!!! Enak banget Tar seponganmu… Kayaknya kamu sudah terbiasa nyepong ya?” selidik Fredy.
“Enak aja… hmmm… sluurrpp…” protes Tari sambil mencubit pinggang Fredy.
“Tari sering lihat di film BF punya Non Mirna saat Tari lagi dirumah sendiri. Sluuurrpp… hhhmmmhhh… sluuurrpp… hhhmmmm…” jelas Tari lalu melanjutankan me-ngulum2 penis Fredy.
“Oohh… Taaarrr, teruuuus… enak jilatanmu… en tot penisku dengan mulutmu Taaarrrrrr… ssssshhhhh… oooohhh…” desah Fredy meminta Tari terus mengulum penisnya.

Kemudian Tari lebih merentangkan kedua kaki Fredy dan mulai lagi menjilati bagian peka disekeliling penis Fredy, mulai dari biji pelernya, terus naik keatas sampai ke liang kencingnya semuanya Tari jilati, bahkan Tari dengan telaten menjilati liang dubur Fredy yg membuat Fredy benar2 blingsatan. Birahi Fredy terus naik merambat ke tingkat tertinggi.

Fredy hanya dapat me-remas2 susu Tari serta me-rojok2 no nok Tari dengan jarinya. Fredy sudah tak tahan dengan kelihaian Tari tersebut, Fredy menyuruh Tari berhenti tetapi Tari tak memperdulikannya malahan mulutnya yg hangat itu makin lincah mengeluar masukkan penis Fredy dan tangannya meng-urut2 lembut biji pelernya. Fredy merasa puncak kenikmatannya sebentar lagi akan meledak.

“Aduuuuhhh Tarrrrr… udah Tarrrrr, aku gak mau ngecret dimulutmu, aku pingin ngecret di no nokmu…” kata Fredy minta agar Tari berhenti sambil menarik kepala Tari menjauh dari penisnya.

Fredy tak tahan lagi. Dengan cepat Fredy memasukkan kembali batang penisnya kedalam liang no nok Tari. Dia mengenjotkan penisnya keluar masuk no nok Tari dengan penuh nafsu. Begitu bernafsunya sehingga tempat tidur itu goyah bagai diguncang gempa bumi.

“Mas ganas banget… Aaauuuggghhh… pelan Maaaas, bisa robek no nok Tari… penismu gede banget…” jerit Tari saat liang no noknya diterobos dengan kuat oleh penis Fredy.

Tari mengimbangi permainan Fredy. Dia juga mengharapkan memperoleh orgasmenya kembali. Tari memutar dan menggoyang pantatnya pelan2 sambil menekan pantat Fredy sehingga penis Fredy amblas dalam sekali di liang no noknya. Fredy merasakan ujung penisnya menyentuh dinding empuk yg rupanya leher rahim Tari. Setiap kali Tari memutar dan menggoyang pantatnya, Fredy menggelinjang menahan rasa nikmat yg sangat luar biasa diujung penisnya. Penis Fredy rasanya seperti diremas dan diisep oleh dinding2 liang no nok Tari.

“Aaaaah… bukan main enaknya!!! ssssshhhh… oooooohhh… empotan no nokmuuu enaaakkk banget… ssssshhhhh… oouughhh… penisku teeraasaaa disedooot seeedooot… nikmaaat banget Tarrrrr… sssshhhhhh… aaaaaahhhhh…“ Fredypun melenguh keenakan merasakan empotan dinding2 liang no nok Tari dibatang penisnya.

Fredy men-dengus2. Birahinya meng¬gelegak. Dengan ganas disodoknya liang no nok Tari. Perlakuan Fredy tersebut semakin menambah kenikmatan bagi Tari.

“Ouughhh… Maaass… teeruusss ssooddokkk no nok Tari dengaaannn kkon ttol gedemu ituuu… ssssshhhhhh…. aaaggghhhh… teekaaaaan lebih daaaaalllaamm Maaass… ssssshhhhh… oooooohhhh…” Tari mengerang kenikmatan menikmati sodokan penis Fredy di liang no noknya.

Hingga akhirnya Tari harus mengakui ke¬kuatan Fredy. Fredy mampu bertahan le¬bih lama dibandingkan dengan dirinya. Padahal tadi penis Fredy sudah akan ngecret dimulutnya. Namun justru begitu penis Fredy menyodok liang no noknya, dialah yg mencapai orgasme lebih dulu.

“Ooooohhh… Maaaaasss… aaaakkkkuuu… kkeeelluuarrr lagiiiiiiiii… sssssshhhhh… aaaaaahhhh!!!!” Tari mengerang tubuhnya melenting dan mengejang kuat.

Sssseeerrr… ssseeerrr… ssseerrrr… cairan orgasmenya yg hangat muncrat dari dalam no noknya meng¬guyur penis Fredy.

“Ooooohhh Maaaasss… Akku kallllah… ssssshhhh… nikmat banget… ssssshhhhh… ooooohhhhh…” rintih Tari kenikmatan.

Setelah memberi kesempatan bagi Tari untuk menikmati orgasmenya lagi, Fredy kembali memompa penisnya keluar masuk liang no nok Tari yg lebih licin dan basah akibat cairan orgasmenya, sehingga penis Fredy lebih lancar keluar masuk diliang no nok Tari.

Cplek… cplek… cplek… suara yg dihasilkan dari tumbukan penis Fredy dan no nok basah Tari.

“Mas cabut dulu, biar Tari lap dulu no noknya…” usul Tari. Fredy menolak ketika Tari mengusulkan agar no noknya dibersihkan dulu.
“Enggak usah Tar. Biar saja” ujar Fredy.
“Bunyi Mas… malu!!!” ujar Tari
“Biarin… bikin aku tambah nafsu…” ujar Fredy sam¬bil terus me-mutar2kan batang penisnya.

Setelah sekian lama Fredy berusaha barulah ia merasakan tanda2 penisnya akan menyemprotkan pejunya. Fredy minta agar Tari lebih merapatkan kedua pahanya untuk mempersempit liang no noknya. Tari melakukan apa yg diminta Fredy. Be¬nar saja dalam tempo yg tdk lama Fredypun mengejang kuat.

“Ooohhh… Tarrrrrrr… Aku Kelluluaaaar… sssssshhhhh… aaahhhhh!!!!” teriak Fredy sambil menghujamkan penisnya dalam2 di no nok Tari.

Creeeett…. Creeetttt….. Creeeetttt…… peju Fredy muncrat disertai kenikmatan yg luar bi¬asa. Tubuhnya menggelosoh lemas.

Tari tersenyum memandang Fredy yg perkasa. Dia sadar setelah majikannya datang dari luar kota ia takkan memiliki kesem¬patan itu lagi. Tiba2 senyum Tari terhenti jika mengingat semua itu. Malam ini dia bisa begitu bahagia mereguk kenikmatan demi kenikmatan bersama Fredy yg tdk lain adalah milik majikannya, tapi besok? Mata yg bagus itu tiba2 me¬merah. Fredy kaget melihat perubahan itu.

“Ada apa Tar?” tanya Fredy.
“Tari sedih Mas. Besok setelah Non Mirna datang, belum tentu aku bisa menikmati semua ini. Mas bukan milikku. Dan aku pasti harus menanggung derita karena ketagihan penis Mas” jawab Tari
“O itu. Kenapa mesti sedih semua bisa diatur. Aku siap kok memberimu ke¬nikmatan kapan saja. Lagian aku juga ketagihan sama legitnya no nok kamu” jelas Fredy.
“Benar Mas?” tanya Tari lagi.
“Tinggal atur aja, asal ada kesempatan” kata Fredy.
“Makasih Mas… kamu baik banget” ucap Tari sambil mengecup lembut bibir Fredy.

Keduanya kemudian tertidur dalam keadaan telanjang dan berpelukan. Mereka berdua tidur dengan lelapnya setelah melakukan pergumulan yg melelahkan namun penuh dengan kenikmatan tersebut.

Minggu pagi2 sekali Tari sudah bangun dari tidurnya. Ia tdk melupakan tugas utamanya sebagai seorang pembantu rumah tangga meski¬pun semalam ia merasa dirinya bagai seorang ratu di atas tempat tidur. Setelah semuanya beres, Tari langsung ke kamar mandi mem-bersihkan diri.

Air segar mengguyur sekujur tubuhnya. Ke¬letihan semalam sirna seketika. la ter-senyum2 sendiri sambil menggosoki tubuhnya de¬ngan sabun.

“Ouw!!!” Tari no nokik kaget ketika melihat Fredy muncul dengan tiba2. Secara reflek Tari menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi no noknya, “Ih Mas Fredy!!! Keluar ah, Tari Malu!!!!” pekiknya.
“Malu bagaimana? Bukannya semalam kita sudah saling melihat tubuh telanjang kita” kata Fredy sambil membuka pakaiannya sen¬diri.
“Mas mau apa?” tanya Tari.

Tanpa banyak bicara Fredy langsung men¬dekap tubuh Tari yg penuh busa sabun. Didesakkannya ke sudut hingga wanita itu terduduk di kloset duduk yg tertutup. Pada saat itulah Fredy langsung jongkok dan membuka selangkangan Tari hingga bibir no noknya terkuak.

“Edan kamu Mas…” kata Tari sambil mencipratkan busa dari tangannya.

Fredy tertawa. Matanya menatap nanar ke arah no nok Tari yg ditumbuhi jembut keriting yg lebat disekitarnya, sorot matanya penuh nafsu birahi. Fredy pun mulai menyibak jembut Tari yg menutupi celah no noknya, lalu jari Fredy membuka bibir no nok Tari secara perlahan sehingga celah no noknya semakin terbuka lebar. Kemudian tanpa menunggu lebih lama lagi, Fredypun mulai menjilati no nok Tari dari bawah ke atas sambil sesekali ia cucukan ujung lidahnya kedalam liang no nok Tari.

“Ooohhh Maaass… sssssshhhh… enak banget Maaaaaas… ssssshhhh… aaaaahhhh…” desah Tari.

Jilatan lidah Fredy melalui merambat ke ujung atas no nok Tari dimana 1t1lnya berada. Begitu sampai pada 1t1l Tari tersebut, dengan penuh nafsu 1t1l tersebut ia jilat2 dengan lidahnya dan ia kenyot2 dalam mulutnya. Kontan membuat Tari semakin mendesah keenakan.

“Aduuuuhhhh… iya itu… jilat terus 1t1l Tari… sssssshhhhh… nikmat Maaaas… ooooooohhh…” desah Tari makin menjadi saat Fredy mulai mengerjai 1t1lnya,
“Aaaaaahhhh… Maaaaas… sudah Maaaas… sekarang puasin Tari dengan penis gedemu Mas… ssssshhhhh… oooohhhh…” pinta Tari sambil menarik kepala Fredy menjauhi no noknya.

Fredypun berdiri tangan kirinya mulai mengarahkan batang penisnya menuju ke liang no nok Tari. Di-gesek2kannya kepala penisnya yg besar itu dicelah no nok Tari. Tari hanya dapat mendesah merasakan pergesekan antar kepala penis Fredy dengan celah no noknya dan terkadang mengenai 1t1lnya.

“Maaaass… buruan masukin Maaaas… Tari udah nggak tahan” rengek Tari.

Tangannya mengambil alih tangan Fredy, Tari meraih batang penis yg besar dan panjang itu kemudian diselipkan dicelah no noknya. Kemudian secara tiba2 Fredy menghujamkan penisnya kedalam liang no nok Tari.

“Aow!!!” Tari no nokik kaget. Dia merasa agak ngilu karena tiba2 penis Fredy yg keras itu menusuk no noknya.

Namun rasa ngilu itu sekejap saja segera berganti dengan rasa nikmat yg luar biasa.

Dua kaki Tari terangkat naik dan me¬lipat pada pinggang Fredy. Sementara Fredy te¬lah berhasil menghujamkan separuh dari batang penisnya. Ditekan lagi batang penisnya hingga amblas sepenuh¬nya di dalam no nok Tari.

“Adduh Mas… sakit. Nggak mau begini ah punggungku sakit” kata Tari sambil melepaskan lipatan kakinya. Tari merasa tdk nyaman saat Fredy mengen toti dirinya dengan posisinya tersebut.

Tari kemudian berdiri. Fredy menggenggam penisnya dan dengan perlahan mengarahkannya ke¬liang no nok Tari. Sesaat ia men-cari2 liang no nok Tari dengan ujung penisnya.

“Ya, itu pas Mas. Tekkkkaaaan… ssssshhhh…” Tari merintih dan men-desis2 ketika kepala penis Fredy membelah celah no noknya dan batang penisnya mulai menyelinap masuk liang no noknya.

Tari agak mengangkangkan kedua kaki¬nya hingga tubuhnya setengah mendongkak sambil memegangi bahu Fredy. Fredy tetap berdiri tegak sementara ta¬ngannya mencengkeram pantat Tari. Diangkatnya sedikit pantat Tari agar posisi penisnya pas betul dengan liang no nok Tari.

Saat penis Fredy telah memasuki liang no nok Tari, Taripun lalu menggelayut pada leher Fredy. Tu¬buhnya yg tdk seberapa besar dapat deng¬an mudah diangkat oleh Fredy. Bersamaan dengan itu kedua belah kaki Tari melingkar dipinggang Fredy sehingga persetubuhan mereka menjadi makin mantap. Kedua kelamin mereka sa¬ling beradu dengan ketat.
Fredy berjalan. Dan sungguh tak disang¬ka ia merasakan suatu kenikmatan yg luar biasa. Batang penisnya secara otomatis keluar masuk seiring langkah kakinya. Namun nikmatnya luar biasa. Nikmatnya dirasakan sampai ke-ubun2nya. Fredy berjalan mengitari ruangan kamar mandi yg tdk begitu luas. Lagi2 sentuh¬an nikmat itu terasa seiring dengan setiap langkah kakinya.

“Ooohhh… sssshhhh… ooooooohhh… ssshhhh… aaaaahhhh…” Fredy mendesah kenikmatan, matanya merem melek meresapi kenikmatan akibat gerakan penisnya di dalam no nok Tari saat dia berjalan.

Demikian juga Tari. Dia me-rintih2 merasakan nikmat yg sama. Bibirnya men-de¬sah2. Ini ngen tot cara baru buat mereka. Bersetubuh dengan cara demikian ternyata lebih nikmat dari cara apapun. Mungkin Fredy yg tdk nyaman karena harus menang¬gung beban tubuh Tari. Namun semua itu tak sebanding dengan kenikmat yg dia rasakan.

“Sssssshhhh… aaaaahhhh… Maaaaaasss… oooooooh… sssshhhh…” Tari merintih. Tubuhnya bergoyang,
“Oh, nikmat banget Maaaas… oooooohhhh… sssshhhh…” kembali Tari mengerang merasakan kenikmatan.
“Sssssshhhhh… aaaaahhhhh… Taaaarrrrrr… ssssshhhhh… aaaaahhhhh…” erang Fredy menikmati persetubuhan tersebut.

Nafasnya ter¬-engah2. Menggendong tubuh Tari lama2 membuat Fredy capek juga. Kemudian ia meme¬rintahkan Tari agar menurunkan kakinya dan berdiri disudut kamar mandi. Ketika Fredy hendak mencabut penisnya Tari memprotesnya.
“Jangan dicabut Mas penisnya!” protes Tari. Sambil mendekap tubuh Fredy ia berjalan mundur menuju bibir bak mandi. Tem¬pat itulah yg dimaksud Fredy dan disitulah Fredy mulai mengen tot Tari kembali.

Dengkul Fredy memaksa menguakkan selangkangan Tari. Penisnya yg besar menelusur dalam liang no nok Tari, keluar masuk dengan lincahnya. Tari me-rintih2 lagi. Sesekali ia menggelinjang ke¬tika Fredy menekan dengan keras penisnya.

“Aow… ssssshhhh… aaaahhhhhh… eeeddaaann… nikmat banget Maaaass… ssssshhhh… ooooohhhh… Mas betul2 hebattttt… ssssssshhh… aaaaahhh…” Tari mengerang.

Mereka masih saja memacu persetubuhan itu. Belum ada tanda2 keduanya meraih orgasme masing2. Penis Fredy bagaikan penis kuda yg tak pernah lelah. Kepala penisnya yg besar itu terus menggelitik bagian terdalam diliang no nok Tari.

“Sssssshhhhh… ooooooooh…” desah Tari sambil mencengkeram bahu Fredy. Giginya mengatup rapat.

Gerakan keluar masuk penis Fredy makin gencar. Rintih¬an Tari sering terdengar. Dia terus menggoyangkan pantatnya seiring dengan enjotan penis Fredy. Akibat goyangan itu Fredy mera¬sa dibuai kenikmatan dan makin mempercepat keluar masuknya batang penisnya. Taripun mempercepat goyangannya. Ia sudah tak sabar ingin mendapatkan orgasmenya yg sudah di-nanti2i.

“Tekan lebih dalam Maaaaas, sodok yg keras dan putar di dalam!!!” pinta Tari.

Fredy mehentakkan pantatnya dengan kuat dan menyodokkan penisnya kuat2 sehingga seluruh batang penisnya terbenam di no nok Tari lalu dia putar2 penisnya tersebut didalam liang no nok Tari.

“Nah begitu… ya begitttu… sssshhhh… oooohhhh enaaak bangeeeet… Aduuuuuh… Maaaasss… penismu nikmat banget… sssssshhhhh… aaaaaahhhh…” rintih Tari.
“Terus Taaarrrr… goyang terus… sssshhhh… ooooohhh… kamu memang hebat Tar… sssshhhh…. hhhmmm… Gila no nok kamu sempit dan ber-kedut2 terus, penisku kaya di-pijat2…Taaarrrr… aaaaahhhh…!!!” teriak Fredy yg sedang keenakan merasakan jepitan dan empotan no nok Tari,
“Aduuuuuuh nikmatnya ngeeen ttootti kamu… sssshhhh…. ooohh…” Fredy mengerang merasakan nikmat pada penisnya.

Kembali keduanya saling memacu. Kemudian no nok Tari terasa hangat. Itu dapat dirasakan oleh penis Fredy. Tdk lama kemudian sekujur tubuh Tari meregang. Fredy tahu Tari akan mendapatkan orgasmenya. Iapun memacu penisnya keluar masuk no nok Tari semakin cepat dan tdk beraturan. Tari mengerang hebat.

“Ssssshhhhh… oooooooohhhh… aaaakkuuu… keluuaaarr… sssshhhh… ooooohhh nikmat…!!!” Tari mengerang menikmati puncak kenikmatannya.

Dengan ejangan kuat Tari meregang. Dekapannya kian erat pada tubuh Fredy.

Sseerrrrr… ssseeerrrr… ssseeeerrrr… ssseeeeerrrr… no nok Tari menyemburkan cairan orgasmenya dan membasahi batang penis Fredy yg masih gencar meng-aduk2 no noknya.

“Ssssssshhhh… aaaaaahhhh… en totan Mas betul2 enaaaakk… ssssshhhh… aaaahhhh…” Tari masih terus mengerang merasakan kenikmatan orgasmenya dan rojokan batang penis Fredy yg masih terus menyodok liang no noknya.

Disaat no nok Tari menyemburkan cairan orgasmenya, kali ini Fredy tdk menghentikan sodokan penisnya tapi malah menambah cepat keluar masuk penisnya hingga tubuh Tari berguncang hebat,

Bleeesss… ssrrrtttt… bleeesss… sssrrrtttt… penis Fredy dengan gencarnya terus keluar masuk no nok Tari.

“Ooohhh…. Tarrrrrr aakuu jugaa keluaaaaarrr… ssssshhhhh… ooohhh!!!!!” erang Fredy yg menikmati penisnya menyemburkan pejunya didalam liang no nok Tari.

Creettt… ccreeeett… creeettt… peju Fredy menyembur keluar dengan kuat menghantam dinding rahim Tari.
Fredy membenamkan batang penisnya dalam2 diliang no nok Tari. Tari merasakan peju Fredy yg hangat menyirami dinding rahimnya. Kini mereka telah berhasil merengkuh puncak kenikmatan masing2.

Setelah badai nafsu birahinya mereda dan setelah puas merasakan jepitan no nok Tari, Fredypun mencabut penisnya dari cengkraman liang no nok Tari dan melepaskan pelukkannya.

“Mas hebat. Mas benar2 perkasa. Penis Mas lama lemesnya sekali ngaceng bisa bikin Tari orgasme lebih dari sekali.

Tari betul2 puas, Mas. Kapan2 Tari mau dien tot lagi ah sama Mas” kata Tari lalu tersenyum penuh kepuasan.
Hari telah menjelang siang, mereka berdua kemudian membersihkan diri masing2 dan berpakaian kembali. Tari menyiapkan makan siang buat Fredy. Dan setelah menyantap makan siang, Fredy tertidur dengan nyenyak. Badannya baru terasa capek setelah semalaman dan pagi tadi ngen tot dengan Tari habis2an.

Malam harinya Fredy menginap lagi di rumah Mirna. Dia ingin puas2in nafsunya untuk menyetubuhi Tari. Dia ingin menikmati legitnya no nok Tari se-puas2nya. Mumpung ada kesempatan, disaat Mirna sedang keluar kota. Kembali malam itu mereka berdua berpacu dalam birahi saling berlomba mencapai kenikmatan surga dunia. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa, abg hypersex cerita abg mesum cerita abg sange cerita bokep Cerita Dewasa cerita lepas perawan Cerita Mesum Cerita Mesum Pelajar Cerita Ngentot cerita panas cerita perawan Cerita Seks Cerita Sex Cerita Sex 2016 Cerita Sex ABG cerita sex bergambar Cerita Sex Terbaru cewek pemuas nafsu ngentot sex terbaru Pembantu Binal pemuas nafsu

Related Search

Category: Cerita Dewasa, Cerita Sex

Related video